Masih ingat film Dora The Explorer? Saya yakin sebagian dari kita pernah menonton serial kartun keluaran Nickelodeon Junior ini. Satu hal yang menarik dari film ini adalah ketika setiap kali Dora bersama Boots berhasil memecahkan suatu teka-teki atau berhasil menyelesaikan pekerjaan, maka mereka berdua akan menari serta menyanyi, "Berhasil! Berhasil!"
Mendungnya cuaca hari ini tidak menghentikan niat saya untuk datang ke kantor bank yang letaknya agak sedikit jauh dari tempat saya bekerja. Setelah melalui beberapa stasiun metro, sampailah saya di tujuan saya.
Dengan headphone masih menempel di kepala, diiringi lagu Maybe This Time yang dilantunkan oleh sebuah grup bernama Glee, tibalah saya di sebuah gedung besar berwarna cokelat dengan cat tembok yang agak lusuh serta pintu besi di tiap sisi gedung. Saya pun menaiki tangga untuk masuk ke pintu utama kantor tersebut.
Sebuah ruangan kecil dengan lampu remang dengan dua orang security yang juga bertindak sebagai resepsionis gedung, yang duduk sigap.
Saya mendatangi salah satu dari mereka dan mengatakan, bahwa saya ingin bertemu dengan Elena atau Julia. Setelah mendata paspor saya, sang security, yang kira-kira berumur hampir 50 tahun, menunjuk ke sebuah telepon kecil di sudut ruangan dan meminta saya untuk menghubungi nomor extensi Julia.
Saya berpikir, mengapa bukan dia saja yang menelpon dan mengatakan kepada Julia bahwa ada tamu yang mencarinya. Aneh memang. Tanpa ingin bertele-tele, saya menekan tombol extensi dimaksud dan tersambunglah saya dengan suara seorang wanita yang ternyata bukan Julia. Saya mengatakan kepada wanita tersebut bahwa saya ingin berbicara dengan Julia.
Wanita itu pun memanggil Julia. Sayup-sayup terdengar perkataan wanita tersebut dalam bahasa Rusia, "Julia, drugoi inostranets tebya iskal! - Julia, ada orang asing mencari kamu!" Lalu telepon pun ditinggalkan begitu saja. Setelah kurang lebih lima menit, saya tidak menerima jawaban apapun. Yang hanya saya dengar hanyalah pembicaraan sayup-sayup dari gagang telepon yang saya pegang. Umpatan pun terlontar, "Tupaya devushka! - Wanita bodoh!"
Beginikah cara bank "terkemuka" melayani pelanggannya?
Lalu saya mengatakan kepada security, bahwa Julia tidak ada di tempat dan security meminta saya untuk mendatangi kamar no. 115, tempat dimana Elena bekerja. Saya pun masuk ke kamar no. 115 dan di dalam ruang sempit itu, terdapat empat meja kerja berwarna putih dan duduk dua orang wanita.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan Elena atau Julia," kata saya.
Satu dari wanita dengan rambut cokelat pirang menjawab, "Dia sedang keluar." Dan selesai begitu saja. Tanpa mempersilahkan saya untuk duduk. Lalu wanita yang duduk di meja di seberang saya berdiri mempersilahkan saya untuk duduk menunggu. Ya elah si neng. Mending cantik. Gak punya manner banget!
Saya duduk menunggu selama kurang lebih sepuluh menit. Elena maupun Julia tidak kunjung datang. Ruangan kecil itu panas dan sesak sekali. Di tiap meja berserakan kertas-kertas serta berkas-berkas bank yang akan dicap. Saya sempat berpikir, jangan-jangan tumpukan kertas itu merupakan keluhan-keluhan dari para nasabah. Whew!
Saya pun masih sabar untuk menunggu. Sesekali menarik napas panjang dan berkata dalam hati, "this time I'll win!". Seorang wanita berambut bondol masuk ke ruangan itu. Dia duduk lalu mengangkat telepon. Saya menebak dia adalah Elena. Dan ternyata benar. Di telepon dia menyebutkan nama Julia, dan dia meminta bantuan Julia untuk menangani kasus saya
Setelah Elena menutup telepon, dia mempersilahkan saya untuk naik ke lantai dua, tempat dimana Julia berada. Elena pun melemparkan senyumnya kepada saya ketika menaiki tangga. Dan sekedar basa-basi, saya menanyakan kabarnya. Saya pun masuk ke ruangan yang lebih besar dan bersih. Setidaknya lebih beradab dari ruang bawah tanah sebelumnya. Duduk dalam ruangan tersebut, dua orang wanita berumur 30-an dan seorang wanita berumur 40-an.
Julia. Dengan senyumnya menyapa saya dan mempersilahkan saya untuk duduk. Setelan berwarna biru langit yang dikenakan tampak serasi dengan kalung emas berbentuk salib, serta rambut pirangnya. Setelah mempersilahkan Elena untuk keluar, Julia berkata kepada saya dalam bahasa Inggris yang fasih untuk menunggu sebentar.
Wajahnya mengingatkan saya pada salah satu aktris Amerika jaman ini. Ya, Scarlet Johanson! Saya pikir Scarletlah yang bisa saya gunakan sebagai analogi untuk Julia. Saya berharap, bahwa kecantikan dia akan sesuai dengan tingkah lakunya.
Julia pun meminta semua dokumen yang diperlukan. Pada saat dia sedang memeriksa semua dokumen tersebut, saya melemparkan pandangan saya ke tempat dia bekerja. Di samping meja hitamnya yang tertata rapih, tertempel peta Inggris. Saya berpikir, bahwa setidaknya dia pernah ke sana atau berangan-angan untuk ke sana.
Setelah Julia mengecek semua dokumen tersebut, dia meminta saya untuk kembali mengisi formulir aplikasi pengajuan kartu. Saya pun mengatakan kepadanya, bahwa saya sudah mengisi formulir aplikasi tersebut di Saint Petersburg dan saya keberatan untuk mengisinya dua kali.
Dengan sedikit kesal, namun masih tersenyum, dia mengatakan bahwa terjadi kesalahan di bank Saint Petersburg. Ageyeva, teller yang menangani saya di Saint Petersburg, tidak memasukan data saya ke dalam sistem. Oleh karena itu, nama saya tidak tercantum di dalam sistem dan saya harus melakukan registrasi ulang untuk hal ini.
Pikiran saya sesaat kembali membayangkan wajah Ageyeva. Lalu umpatan kedua pun mendaratlah di pikiran saya.
Saya mengatakan kepada Julia, bahwa bank ini harus banyak belajar bagaimana menangani nasabah. Saya sangat menyayangkan buruknya pelayanan bank ini dan saya meminta dia untuk menyampaikan keluhan saya kepada pihak bank di Saint Petersburg. Julia pun meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh bank di Saint Petersburg dan dia berjanji akan menyampaikan keluhan saya.
Setelah semua proses selesai. Julia pun mengatakan, bahwa uang akan dikirim hari ini juga setelah mendapatkan persetujuan dari cabang Saint Petersburg. Dan satu hal yang sangat mengejutkan, saat Julia menjelaskan, untuk penarikan tunai di mesin ATM bank setempat, dikenakan komisi 0.5 persen dari jumlah pengambilan.
Saya pun terkejut mendengarnya. Saya mengatakan kepada Julia, bahwa tidak ada dalam sejarah manapun, untuk penarikan tunai di bank setempat akan dikenakan komisi. Ini merupakan hal yang tidak waras untuk saya. Untuk apa menyimpan uang di bank, jika setiap penarikan tunai harus dikenakan komisi?
Julia pun seakan memahami kondisi dimana dia pun tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya mengatakan, bahwa inilah sistem yang berlaku di bank ini. mau tidak mau harus diterima.
Saya pun menyudahi pembicaraan dan bergegas ke mesin ATM yang ditunjukan oleh Julia untuk mengecek saldo. Dan "berhasil, berhasil, horray!". Angka saldo pun bertambah. Tanpa pikir panjang saya menarik tiga lembar uang tersebut, yang tentunya dikenakan komisi dari sisa uang yang saya masukan sebelumnya untuk penggantian nomor PIN.
Saya berterima kasih kepada Julia atas kesabaran dia membantu saya dan saya pun bergegas melangkahkan kaki keluar dari gedung tua tersebut dan membuka pintu besi, seperti adegan pembuka di film Sex and The City 2, saat Carrie keluar dengan kacamata emasnya diiringi lagu Empire State of Mind oleh Alicia Keys, hanya bedanya saya tidak menggunakan kacamata emas tersebut dan tidak memakai Halston Heritage Dress dan Christian Louboutin Pigalle Heels, which gonna' make you die on prices! Hahahaha!
"Vot Tak!!! - Ini dia!!!"
Ini hanya pembelajaran dari sedikit kekesalan saya di Moscow, khususnya. Dan tentunya bisa dijadikan sebagai alat untuk lebih mensyukuri apa yang kita miliki di dalam negeri (baca: Indonesia). Birokrasi memang menyebalkan, namun semua pasti ada jalan untuk memperjuangkan hak yang memang menjadi hak kita.
Negara ini harus menerima kenyataan, bahwa sekarang mereka bukan hidup di era komunis lagi. Sekarang mereka hidup, dimana setiap orang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik untuk dirinya. Tidak semua orang adalah raja dan tentunya dengan menurunkan ego mereka, saya pikir negara ini akan menjadi negara yang lebih besar lagi.
Tinggal di Rusia membuat saya menjadi lebih menghargai Indonesia. Melihat Indonesia dari angle yang berbeda.
Just like the old quotation said, "There's no other place like home!"
