Tuesday, 9 November 2010

Vot Tak!


Masih ingat film Dora The Explorer? Saya yakin sebagian dari kita pernah menonton serial kartun keluaran Nickelodeon Junior ini. Satu hal yang menarik dari film ini adalah ketika setiap kali Dora bersama Boots berhasil memecahkan suatu teka-teki atau berhasil menyelesaikan pekerjaan, maka mereka berdua akan menari serta menyanyi, "Berhasil! Berhasil!"

Mendungnya cuaca hari ini tidak menghentikan niat saya untuk datang ke kantor bank yang letaknya agak sedikit jauh dari tempat saya bekerja. Setelah melalui beberapa stasiun metro, sampailah saya di tujuan saya.

Dengan headphone masih menempel di kepala, diiringi lagu Maybe This Time yang dilantunkan oleh sebuah grup bernama Glee, tibalah saya di sebuah gedung besar berwarna cokelat dengan cat tembok yang agak lusuh serta pintu besi di tiap sisi gedung. Saya pun menaiki tangga untuk masuk ke pintu utama kantor tersebut.

Sebuah ruangan kecil dengan lampu remang dengan dua orang security yang juga bertindak sebagai resepsionis gedung, yang duduk sigap.

Saya mendatangi salah satu dari mereka dan mengatakan, bahwa saya ingin bertemu dengan Elena atau Julia. Setelah mendata paspor saya, sang security, yang kira-kira berumur hampir 50 tahun, menunjuk ke sebuah telepon kecil di sudut ruangan dan meminta saya untuk menghubungi nomor extensi Julia.

Saya berpikir, mengapa bukan dia saja yang menelpon dan mengatakan kepada Julia bahwa ada tamu yang mencarinya. Aneh memang. Tanpa ingin bertele-tele, saya menekan tombol extensi dimaksud dan tersambunglah saya dengan suara seorang wanita yang ternyata bukan Julia. Saya mengatakan kepada wanita tersebut bahwa saya ingin berbicara dengan Julia.

Wanita itu pun memanggil Julia. Sayup-sayup terdengar perkataan wanita tersebut dalam bahasa Rusia, "Julia, drugoi inostranets tebya iskal! - Julia, ada orang asing mencari kamu!" Lalu telepon pun ditinggalkan begitu saja. Setelah kurang lebih lima menit, saya tidak menerima jawaban apapun. Yang hanya saya dengar hanyalah pembicaraan sayup-sayup dari gagang telepon yang saya pegang. Umpatan pun terlontar, "Tupaya devushka! - Wanita bodoh!"

Beginikah cara bank "terkemuka" melayani pelanggannya?

Lalu saya mengatakan kepada security, bahwa Julia tidak ada di tempat dan security meminta saya untuk mendatangi kamar no. 115, tempat dimana Elena bekerja. Saya pun masuk ke kamar no. 115 dan di dalam ruang sempit itu, terdapat empat meja kerja berwarna putih dan duduk dua orang wanita.

"Maaf, saya ingin bertemu dengan Elena atau Julia," kata saya.

Satu dari wanita dengan rambut cokelat pirang menjawab, "Dia sedang keluar." Dan selesai begitu saja. Tanpa mempersilahkan saya untuk duduk. Lalu wanita yang duduk di meja di seberang saya berdiri mempersilahkan saya untuk duduk menunggu. Ya elah si neng. Mending cantik. Gak punya manner banget!

Saya duduk menunggu selama kurang lebih sepuluh menit. Elena maupun Julia tidak kunjung datang. Ruangan kecil itu panas dan sesak sekali. Di tiap meja berserakan kertas-kertas serta berkas-berkas bank yang akan dicap. Saya sempat berpikir, jangan-jangan tumpukan kertas itu merupakan keluhan-keluhan dari para nasabah. Whew!

Saya pun masih sabar untuk menunggu. Sesekali menarik napas panjang dan berkata dalam hati, "this time I'll win!". Seorang wanita berambut bondol masuk ke ruangan itu. Dia duduk lalu mengangkat telepon. Saya menebak dia adalah Elena. Dan ternyata benar. Di telepon dia menyebutkan nama Julia, dan dia meminta bantuan Julia untuk menangani kasus saya

Setelah Elena menutup telepon, dia mempersilahkan saya untuk naik ke lantai dua, tempat dimana Julia berada. Elena pun melemparkan senyumnya kepada saya ketika menaiki tangga. Dan sekedar basa-basi, saya menanyakan kabarnya. Saya pun masuk ke ruangan yang lebih besar dan bersih. Setidaknya lebih beradab dari ruang bawah tanah sebelumnya. Duduk dalam ruangan tersebut, dua orang wanita berumur 30-an dan seorang wanita berumur 40-an.

Julia. Dengan senyumnya menyapa saya dan mempersilahkan saya untuk duduk. Setelan berwarna biru langit yang dikenakan tampak serasi dengan kalung emas berbentuk salib, serta rambut pirangnya. Setelah mempersilahkan Elena untuk keluar, Julia berkata kepada saya dalam bahasa Inggris yang fasih untuk menunggu sebentar.

Wajahnya mengingatkan saya pada salah satu aktris Amerika jaman ini. Ya, Scarlet Johanson! Saya pikir Scarletlah yang bisa saya gunakan sebagai analogi untuk Julia. Saya berharap, bahwa kecantikan dia akan sesuai dengan tingkah lakunya.

Julia pun meminta semua dokumen yang diperlukan. Pada saat dia sedang memeriksa semua dokumen tersebut, saya melemparkan pandangan saya ke tempat dia bekerja. Di samping meja hitamnya yang tertata rapih, tertempel peta Inggris. Saya berpikir, bahwa setidaknya dia pernah ke sana atau berangan-angan untuk ke sana.

Setelah Julia mengecek semua dokumen tersebut, dia meminta saya untuk kembali mengisi formulir aplikasi pengajuan kartu. Saya pun mengatakan kepadanya, bahwa saya sudah mengisi formulir aplikasi tersebut di Saint Petersburg dan saya keberatan untuk mengisinya dua kali.

Dengan sedikit kesal, namun masih tersenyum, dia mengatakan bahwa terjadi kesalahan di bank Saint Petersburg. Ageyeva, teller yang menangani saya di Saint Petersburg, tidak memasukan data saya ke dalam sistem. Oleh karena itu, nama saya tidak tercantum di dalam sistem dan saya harus melakukan registrasi ulang untuk hal ini.

Pikiran saya sesaat kembali membayangkan wajah Ageyeva. Lalu umpatan kedua pun mendaratlah di pikiran saya.

Saya mengatakan kepada Julia, bahwa bank ini harus banyak belajar bagaimana menangani nasabah. Saya sangat menyayangkan buruknya pelayanan bank ini dan saya meminta dia untuk menyampaikan keluhan saya kepada pihak bank di Saint Petersburg. Julia pun meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh bank di Saint Petersburg dan dia berjanji akan menyampaikan keluhan saya.

Setelah semua proses selesai. Julia pun mengatakan, bahwa uang akan dikirim hari ini juga setelah mendapatkan persetujuan dari cabang Saint Petersburg. Dan satu hal yang sangat mengejutkan, saat Julia menjelaskan, untuk penarikan tunai di mesin ATM bank setempat, dikenakan komisi 0.5 persen dari jumlah pengambilan.

Saya pun terkejut mendengarnya. Saya mengatakan kepada Julia, bahwa tidak ada dalam sejarah manapun, untuk penarikan tunai di bank setempat akan dikenakan komisi. Ini merupakan hal yang tidak waras untuk saya. Untuk apa menyimpan uang di bank, jika setiap penarikan tunai harus dikenakan komisi?

Julia pun seakan memahami kondisi dimana dia pun tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya mengatakan, bahwa inilah sistem yang berlaku di bank ini. mau tidak mau harus diterima.

Saya pun menyudahi pembicaraan dan bergegas ke mesin ATM yang ditunjukan oleh Julia untuk mengecek saldo. Dan "berhasil, berhasil, horray!". Angka saldo pun bertambah. Tanpa pikir panjang saya menarik tiga lembar uang tersebut, yang tentunya dikenakan komisi dari sisa uang yang saya masukan sebelumnya untuk penggantian nomor PIN.

Saya berterima kasih kepada Julia atas kesabaran dia membantu saya dan saya pun bergegas melangkahkan kaki keluar dari gedung tua tersebut dan membuka pintu besi, seperti adegan pembuka di film Sex and The City 2, saat Carrie keluar dengan kacamata emasnya diiringi lagu Empire State of Mind oleh Alicia Keys, hanya bedanya saya tidak menggunakan kacamata emas tersebut dan tidak memakai Halston Heritage Dress dan Christian Louboutin Pigalle Heels, which gonna' make you die on prices! Hahahaha!

"Vot Tak!!! - Ini dia!!!"

Ini hanya pembelajaran dari sedikit kekesalan saya di Moscow, khususnya. Dan tentunya bisa dijadikan sebagai alat untuk lebih mensyukuri apa yang kita miliki di dalam negeri (baca: Indonesia).  Birokrasi memang menyebalkan, namun semua pasti ada jalan untuk memperjuangkan hak yang memang menjadi hak kita.

Negara ini harus menerima kenyataan, bahwa sekarang mereka bukan hidup di era komunis lagi. Sekarang mereka hidup, dimana setiap orang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik untuk dirinya. Tidak semua orang adalah raja dan tentunya dengan menurunkan ego mereka, saya pikir negara ini akan menjadi negara yang lebih besar lagi.

Tinggal di Rusia membuat saya menjadi lebih menghargai Indonesia. Melihat Indonesia dari angle yang berbeda.

Just like the old quotation said, "There's no other place like home!"

Vot Eto Rossiya!

Tinggal di Jakarta menurut saya masih ketimbang lebih baik dari Moskow, jika dilihat dari segi "pelayanan pelanggan" atau lebih keren disebutcustomer service. Jangan pernah membayangkan bahwa kota yang besar dengan tingkat peradaban tinggi akan memberikan pelayanan yang maksimal juga.

Moskow. Kota dengan hiruk pikuk masyarakat yang "kata orang" penuh dengan kemajuan di sana sini. Namun dalam skup "pelayanan", maka kita sebagai pelanggan akan sering sekali menemukan kesulitan untuk "dilayani", ditambah lagi kita sebagai orang asing.

Hal ini seringkali dialami bukan hanya oleh saya, namun juga oleh teman-teman saya. Dan lebih parahnya lagi bahkan teman-teman Rusia saya pun ikut terkena imbas.

Suatu ketika di awal bulan November yang dingin, saat saya sedang berada di bandara di kota Saint Petersburg, saya hendak menukarkan uang asing saya ke mata uang rubel di sebuah mesin ATM. Saya memasukan tigal lembar kertas berwarna abu-abu ke dalam mesin ATM. Mengejutkan sekali. Tiba-tiba saya hanya menerima sebuah kertas kecil (baca: kwitansi) yang bertuliskan, "Operasi dibatalkan. Silahkan menulis laporan tertulis kepada Bank terkait (Master Bank)". Secarik kertas itu merupakan tiket emas saya untuk mendapatkan uang saya kembali.

Saya langsung menghubungi nomor telepon yang tertera di kertas tersebut. Suara seorang wanita yang ketus menjawab telepon saya. Dengan bahasa Rusia yang belepotan, saya menjelaskan situasi saya. Namun dengan entengnya wanita itu menjawab, "Silahkan anda menghubungi bank di Saint Petersburg dengan nomor sekian." Konyol sekali menurut saya. Kalau memang saya harus menghubungi bank yang ada di Saint Petersburg, mengapa di kertas itu tertera nomor Moskow. Dasar sableng!

Setelah pembicaraan selesai, saya menghubungi nomor yang diberikan wanita tadi. Naik pitamlah saya, karena yang hanya saya dengar hanya nada sibuk. Bayangkan, hampir sepuluh kali menghubungi nomor itu, namun disambut dengan nada sibuk. Dalam hati saya mengumpat, "Lo pikir, gue gak sibuk?!"

Akhirnya entah yang keberapa kali saya mencoba, saya terhubung dengan suara seorang wanita yang kali ini lebih ramah. Saya menjelaskan situasi saya dan wanita itu menghubungkan saya dengan "spesialis" (istilah yang digunakan di Rusia) bernama Marina. Dan untuk ketiga kalinya (bayangkan kalau yang keempat saya bisa dapat piring cantik!) saya menjelaskan situasi yang sama.

Marina memberikan jawaban, bahwa saya harus datang ke counter Master Bank yang ada di bandara Pulkovo 1 (nama bandara di Saint Petersburg). Mutar-mutar saya mencari namun tidak menemukan counter tersebut. Saya kembali menelpon Marina, dan dia mengatakan bahwa counter-nya terletak di Pulkovo 2. Akhirnya keluarlah bahasa Rusia saya yang ajaib. Dengan segala caci maki yang tidak jelas saya melayangkan protes kepada dia, karena dia tidak memberikan informasi yang akurat. Untung saja bahasa Rusia saya belum berstruktur kuat. Bayangkan, kalau strukturnya lebih kuat lagi, hmmm... dijamin bukan mulut saya yangbelepotan, tapi wajah dia bisa saya bikin belepotan.

Hari itu juga, kembali saya menelpon Marina, mengabarkan bahwa saya tidak menemukan counter tersebut dan juga tidak bisa datang ke kantorMaster Bank terkait dikarenakan jadwal saya yang padat. Oh, ya, saya sempat membuat skenario, mengatakan kepada Marina bahwa saya harus terbang ke Moskow satu jam lagi. Dan oleh karena pelayanan pelanggan yang buruk, saya sampai harus membatalkan tiket saya demi tiga lembar uang dalam mesin tersebut. Hihihi, bodo amat, emang gue pikirin! Alhasil si Marina cenat cenut jidatnya.

Hari berikutnya setelah rangkaian kegiatan selesai di Saint Petersburg, saya mengunjungi kantor Master Bank. Kedatangan saya disambut oleh seorang wanita cantik berambut cokelat yang menatap saya dengan tatapan maut. Saya menyampaikan bahwa saya ingin membuat laporan terkait dengan masalah saya. Wanita tersebut bernama Ageyeva. Ageyeva menyiapkan formulir laporan yang harus saya isi. Setelah semua proses selesai, satu pertanyaan final saya lemparkan. "Bagaimana cara saya mendapatkan uang saya kembali?". Ageyeva menjawab, bahwa saya harus menunggu di Saint Petersburg selama 2-3 hari. "Semprul! Lo pikir gue liburan!", dalam hati saya mengumpat.

Saya menjelaskan, bahwa malam itu saya harus terbang ke Moskow dengan dua tamu penting. Dan saya menyampaikan, bahwa saya tidak mau tahu, pihak bank harus memberikan saya solusi. Jika tidak, saya tidak segan-segan menuntut pihak Bank dengan melaporkan kepada pihak berwajib.

Air muka Ageyeva langsung berubah menjadi histeris, dan dia meminta saya untuk duduk. Lalu, dia menghubungi koleganya yang merupakan "spesialis" di bank tersebut. Ternyata dia menghubungi Marina. Setelah 5 menit menunggu, Ageyeva mengatakan, bahwa pihak bank akan membuatkan express card dimana nantinya uang tersebut akan dikirimkan ke account saya yang tertera di kartu tersebut.

Mendengar kata express saya berpikir bahwa proses kartu tersebut tidak memakan waktu kurang dari 15 menit. Terkejut sekali saya, karena setelah lebih dari satu jam menunggu, kartu tersebut belum jadi juga. Saya mengatakan, bahwa saya harus ke Bandara dan tamu penting saya sudah menunggu terlalu lama di cafe sebelah.

Lalu driver mobil masuk. Sergey, pria Rusia dengan perawakan yang tinggi besar masuk membantu saya menanyakan perihal kartu tersebut. Wajah Ageyeva menjadi panik, karena dia berpikir bahwa Sergey adalah polisi yang saya hubungi. Saat itu Sergey memakai jaket kulit hitam dengan jean hitam. Kepala botak dengan perawakan seperti Shrek.

Saya meminta Ageyeva untuk menandatangani surat pernyataan yang saya buat dengan menyatakan secara tertulis, bahwa dia sebagai tellertidak bisa memenuhi pekerjaannya dalam membuat kartu ekspres tersebut. Dan dia menandatangani serta mencap surat tersebut. Rasa puas sesaat mampir di wajah saya. Kertas ini akan menjadi bukti cacat pihak bank dalam melayani pelanggan.

Saat saya akan melangkah keluar, Ageyeva memanggil saya dan mengatakan, bahwa kalau saya masih mau menunggu 5 menit lagi, kartu saya akan selesai. Saya pun memberikan toleransi 5 menit lagi (dah kaya lagu dangdut). Kartu sakti itu pun  selesai dibuat, namun memakan waktu lebih dari lima menit. Sebelum saya melangkah keluar, saya kembali menanyakan Ageyeva untuk memberikan jaminan bahwa uang akan dikirimkan dalam 2-3 hari. Dan saya kembali pulang ke Moskow ditemani dua orang tamu penting yang telah sabar menunggu saya dalam proses tersebut.

Pagi hari yang masih tetap dingin di kota Moskow. Kembali ke hiruk pikuk masyarakat yang sangat kaku. Saya melangkahkan kaki saya menujuMaster Bank yang kebetulan letaknya di belakang tempat saya bekerja. Tujuan saya sebenarnya hanya untuk mengganti nomor PIN kartu ekspres yang saya terima. Setelah berulang kali mencoba, operasi terus gagal. Entah mengapa.

Sang security yang melihat saya autis dengan mesin ATM mendatangi saya dan mengatakan, bahwa saya harus mencoba di ATM lain yang kebetulan ada di dalam bank tersebut. Saya pun memasukan kartu saya di 3 mesin ATM, namun tetap gagal mengganti PIN. Lalu saya mendatangi salah satu teller yang paling muda berbaju ungu. Saya menanyakan, "Do you speak English?". Dia, dengan wajah celingukan mengatakan tidak. Dan kembali saya menanyakan, "Is there anyone from you who can speak English?". Lalu seorang teller dengan rambut pirang mengacungkan tangannya, "Yes I can speak English. Medium!". Mendengar kata mediummembuat kening saya berkerut. Namun tanpa pikir panjang, saya menyampaikan perihal saya.

Saya mengatakan bahwa saya tidak bisa mengganti PIN saya. Lalu dia mengecek data saya dan mengatakan, bahwa nama saya tidak tertera dalam sistem.

Wajah saya menjadi merah seketika. Bukan karena malu, namun karena jengkel sekali terhadap pelayanan yang sangat buruk. Saya mengatakan bahwa konyol sekali jika nama saya tidak ada, namun saya sudah memilikiaccount di bank tersebut. Lalu kembali dia memeriksa komputer dan mengatakan bahwa dia telah menemukan nama saya. Untuk itu saya harus menunggu kurang lebih 30 menit.

Lalu dia mengatakan bahwa saya tidak dapat mengganti PIN saya dikarenakan jenis kartu ekspress tidak bisa mengganti PIN. Benar-benartolol orang ini! Secepat kilat saya mengeluarkan secarik kertas yang berisikan no PIN lama saya. Di kertas tersebut tertera keterangan tertulis, "Anda dapat mengganti PIN Anda kapan saja tanpa batas!". Melihat kertas itu, si wanita pirang itu menunduk meminta maaf.

Saya mengatakan dengan ketus, "Bank Anda merupakan Bank terburuk yang ada di dunia ini. Dan Anda bekerja sangat ceroboh! Anda sama sekali tidak membantu saya!". Saya membuat si pirang menjadi merasa bersalah.

Selanjutnya si pirang memeriksa primbonnya. Setelah kurang lebih sepuluh menit, dia mengatakan bahwa alasan tidak bisa mengganti PIN dikarenakan account saya kosong. Saya pun menanyakan apakah kalau saya memasukan uang saya, saya bisa mengganti PIN saya. Dia mengatakan iya.

Lau saya memasukan lima dolar ke account tersebut dan ternyata saya berhasil mengganti PIN saya. Namun, sangat mengecewakan, bahwa untuk mengganti PIN saya dikenakan biaya tiga dolar. Gila sekali, ini mah perampasan uang secara perlahan-lahan.

Lalu saya kembali ke si pirang tersebut dan menyampaikan perihal di Saint Petersburg. Dia mengatakan dengan bahu diangkat dan mimik muka yang menyebalkan, "Saya tidak tahu. Anda harus menghubungi bank di Saint Petersburg!".

Saya membalas, "APA?!!!" (mirip acting para aktor di extravaganza) - "Ini Bank anda, bukan bank saya! Anda sebagai pekerja yang harus menghubungi, bukan saya! Kalau anda tidak bisa membantu saya akan menghubungi pengacara saya!". Terpaksa saya berbohong untuk kembali menekan wanita pirang ini. Dan cara ini terbukti ampuh untuk membuat orang menjadi panik.

Dengan tergesa-gesa seorang teman yang duduk di samping kiri dia, memberikan nomor telepon di Saint Petersburg. Dia menghubungi nomor tersebut, yang ternyata menghubungkan dia dengan si Marina. Saya sudah mengetahui, bahwa saya akan menerima jawaban yang sama. Namun, saya tetap menanyakan hal yang sama, "Kapan uang saya akan dikirim?".

Wanita pirang itu menjawab dengan bahasa Inggris yang dipaksakan, "The money will fly!!". Kalau sudah seperti ini, rasa marah saya berubah menjadi rasa kasihan. Lucu sekali cara dia mengekspresikan kalimat tersebut dengan gerakan tangannya. Saya pun mengucapkan terima kasih dan keluar dari bank tersebut.

Hari ini, setelah enam hari menunggu, saya kembali memeriksa saldo saya dan ternyata uang masih belum juga dikirim. Saya memutuskan mengirimkan email ke pihak bank dengan menyatakan protes keras, karena pihak bank sangat lamban memecahkan masalah sederhana ini.

Setelah email-email saya kirim, saya menghubungi Marina via telepon dan dia mengatakan akan menghubungi saya kembali. Setelah hampir tiga jam, saya kembali menghubungi dia kembali dengan harapan akan ada solusi dari pertanyaan tadi. Dan ternyata, dia masih meminta saya menunggu. Bodoh sekali orang ini! Setelah kurang lebih tiga menit menunggu di telepon, Marina menanyakan nomor kartu saya dan mengatakan bahwa uang akan dikirmkan besok pagi.

Saya pun sedikit lega. Namun rasa lega tersebut berubah seketika, karena saya mendapatkan telepon dari Ageyeva, mengatakan bahwa saya harus melaporkan kejadian ini di bank pusat di Moskow. Saya mengatakan dengan nada keras kepada Ageyeva, bahwa saya sangat keberatan dengan hal ini. Mengapa baru sekarang dia meminta saya untuk datang ke bank pusat di Moskow? Dia pun memberikan nomor telepon orang yang saya bisa hubungi di Moskow. Namanya Elena Maseyeva.

Saya menghubungi Elena dan menanyakan apakah dia bisa berbahasa Inggris. Dia menyambungkan saya dengan temannya Julia yang fasih berbahasa Inggris. Saya menjelaskan situasi saya kepada Julia. Dan lega sekali karena Julia memahami maksud saya dan menyampaikan bahwa saya tetap harus datang ke bank pusat dengan membawa paspor yang diterjemahkan notaris. Saya pun langsung mendaratkan keberatan saya dengan mengatakan bahwa saya tidak mau menterjemahkan paspor saya di notaris, karena akan memakan biaya yang tidak murah dan saya tidak mau dibuat rumit. Saya menawarkan opsi bahwa saya akan menggunakan terjemahan dengan cap Kedutaan Besar. Akhirnya Elena dan Julia setuju.

Setelah telepon itu, Ageyeva menghubungi saya memberitahukan bahwa saya harus datang dengan paspor terjemahan. Saya menegur dia dengan keras, dengan menanyakan alasan mengapa dia baru mengatakan sekarang. Dia mengatakan bahwa paspor saya akan habis masa berlakunya. Geram sekali saya! Saya mengatakan dengan sangat kasar, "Kamu kerja pakai kepala gak sih? Bisa baca kan? Paspor saya masih tiga tahun lagi habis masa berlakunya. Kamu kalau memberikan informasi yang jelas! Pakai otak kamu!"

Ageyeva pun terdiam tanpa kata maaf. Dia mengatakan bahwa saya harus tetap ke bank tersebut. Saya mengatakan bahwa saya sudah mengerti semua. Dan pembicaraan saya akhiri.

Sekarang, saya akan menunggu. Cerita menarik apalagi yang akan terjadi besok?

Menurut opini saya, apa yang saya alami merupakan salah satu contoh kegagalan negara ini dalam melayani pelanggan. Dan saya percaya masih banyak contoh lain yang dialami oleh teman-teman saya yang bahkan juga orang Rusia. Mulai dari teman-teman dekat saya sekaligus murid saya dan bahkan atasan saya selalu mengatakan, "Vot Eto Rossiya!" - yang dapat diartikan "Inilah Rusia!"

So guys, don't expect too much!