Dear Journal,
Saya berpikir, bahwa gampang sekali untuk menyembunyikan gender seseorang ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia. Contohnya saja, kata 'dia'. Dalam bahasa Indonesia, 'dia' bisa berarti lelaki atau perempuan. Sering sekali hal ini menjadi pertanyaan. 'Dia' yang dimaksud di sini merupakan lelaki atau perempuan. Sebagaimana hal yang ingin saya ungkapkan selanjutnya. Terserah bagaimana Anda berpersepsi, karena toh, semuanya akan kembali kepada Anda sendiri.
Kami berdua menempuh pendidikan di universitas yang sama. Kami berdua berada dalam satu lingkungan yang sama. Kira-kira delapan tahun lalu. Walau saya masuk dua tahun lebih dahulu dari dia, namun sekarang hal itu tidak menjadi perbedaan mencolok.
Saya bertemu dia di tahun ini di sebuah tempat yang tidak perlu menjadi konsumsi publik. Saya secara pribadi sangat bersyukur karena dia lah yang kembali membuat saya lebih bisa mewarnai hidup. Sifatnya yang datar serta hampir tidak beremosi, membuat saya semakin penasaran untuk lebih mengenal dia. Saya tidak bisa membaca pikiran dia atau setidaknya menebak apa yang dia rasakan. Dia hanya melihat saya dan berbicara seperti layaknya orang yang baru benar-benar pertama kali kenal.
Sentuhan fisik yang dia berikan. Saat dia memeluk tangan kiri saya. Saat jari jarinya bermain di telapak tangan saya. Seakan memberikan dentingan halus yang merupakan refleksi kebahagiaan yang saya rasakan, terbias dalam gelapnya sinar malam itu.
Setelah lebih dari dua kali bertemu dengan tingkat komunikasi yang intens, saya pun masih belum bisa menebak apa yang dia pikir atau rasakan. Saya semakin penasaran dan walau sudah beribu rasa yang ingin saya ekspresikan, ketika dia berada di hadapan saya, saya kembali mengurung keinginan saya dan mencoba untuk mengikuti kedataran dia dalam bersikap. Saya mencoba untuk lebih tenang untuk bisa mencerna apa yang dia inginkan.
Di rumah makan yang panas itu, namun menyajikan hidangan yang lezat, saya mencoba untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan terhadap dia. Mimpi terbesar saya, keinginan saya serta naluri saya sebagai manusia tertumpah dengan sedikit tertata dalam bahasa yang tersusun tanpa titik dan koma. Matanya menatap mata saya dan hati saya seakan berhenti berdegup sepersekian detik.
Setelah saya mengungkapkan apa yang menjadi hasrat saya sebagai manusia, dia pun terlihat sedikit salah tingkah, dan ternyata dia pun memiliki hasrat yang sama untuk membangun sesuatu. Rasa bahagia singgah dalam diri saya dan rasa itu masih tinggal sampai saat ini. Dia, seseorang yang sebenarnya berada dekat dengan saya, namun tidak pernah bertemu satu sama lain. Lalu apa jadinya jika kita dulu bertemu?
Aku sayang dia...