Friday, 7 January 2011

Aku dan Dia


Dear Journal,
Saya berpikir, bahwa gampang sekali untuk menyembunyikan gender seseorang ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia. Contohnya saja, kata 'dia'. Dalam bahasa Indonesia, 'dia' bisa berarti lelaki atau perempuan. Sering sekali hal ini menjadi pertanyaan. 'Dia' yang dimaksud di sini merupakan lelaki atau perempuan. Sebagaimana hal yang ingin saya ungkapkan selanjutnya. Terserah bagaimana Anda berpersepsi, karena toh, semuanya akan kembali kepada Anda sendiri.
Kami berdua menempuh pendidikan di universitas yang sama. Kami berdua berada dalam satu lingkungan yang sama. Kira-kira delapan tahun lalu. Walau saya masuk dua tahun lebih dahulu dari dia, namun sekarang hal itu tidak menjadi perbedaan mencolok.
Saya bertemu dia di tahun ini di sebuah tempat yang tidak perlu menjadi konsumsi publik. Saya secara pribadi sangat bersyukur karena dia lah yang kembali membuat saya lebih bisa mewarnai hidup. Sifatnya yang datar serta hampir tidak beremosi, membuat saya semakin penasaran untuk lebih mengenal dia. Saya tidak bisa membaca pikiran dia atau setidaknya menebak apa yang dia rasakan. Dia hanya melihat saya dan berbicara seperti layaknya orang yang baru benar-benar pertama kali kenal.
Sentuhan fisik yang dia berikan. Saat dia memeluk tangan kiri saya. Saat jari jarinya bermain di telapak tangan saya. Seakan memberikan dentingan halus yang merupakan refleksi kebahagiaan yang saya rasakan, terbias dalam gelapnya sinar malam itu.
Setelah lebih dari dua kali bertemu dengan tingkat komunikasi yang intens, saya pun masih belum bisa menebak apa yang dia pikir atau rasakan. Saya semakin penasaran dan walau sudah beribu rasa yang ingin saya ekspresikan, ketika dia berada di hadapan saya, saya kembali mengurung keinginan saya dan mencoba untuk mengikuti kedataran dia dalam bersikap. Saya mencoba untuk lebih tenang untuk bisa mencerna apa yang dia inginkan.
Di rumah makan yang panas itu, namun menyajikan hidangan yang lezat, saya mencoba untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan terhadap dia. Mimpi terbesar saya, keinginan saya serta naluri saya sebagai manusia tertumpah dengan sedikit tertata dalam bahasa yang tersusun tanpa titik dan koma. Matanya menatap mata saya dan hati saya seakan berhenti berdegup sepersekian detik.
Setelah saya mengungkapkan apa yang menjadi hasrat saya sebagai manusia, dia pun terlihat sedikit salah tingkah, dan ternyata dia pun memiliki hasrat yang sama untuk membangun sesuatu. Rasa bahagia singgah dalam diri saya dan rasa itu masih tinggal sampai saat ini. Dia, seseorang yang sebenarnya berada dekat dengan saya, namun tidak pernah bertemu satu sama lain. Lalu apa jadinya jika kita dulu bertemu?
Aku sayang dia...

I am Glowing


Dear Journal,
Pertama kalinya selama hidup di Jakarta, saya mencoba menu di Daeng Tata. Telat banget yah. Rumah makan yang terletak di bilangan Tebet ini terbilang cukup ramai pengunjung. Saat masuk di ke dalam rumah makan ini, aroma masakan serta lembabnya udara malam itu sudah terasa. Saya mengunjungi rumah makan itu dengan seorang teman dekat saya. Kami berdua duduk di sebuah meja di pinggiran dengan harapan mendapatkan hembusan angin segar.
Seorang pelayan datang menghampiri meja kami dengan membawa menu. Sementara saya membaca menu tersebut, datang seorang pelayan lainnya membawa dua piring nasi putih dengan tempat bawang goreng dan jeruk nipis. Teman saya merekomendasikan Iga Ribs dengan minuman jus terong belanda. Mendengar nama terong belanda, membuat saya bertanya apakah itu benar-benar terong yang dijus. Sayapun masih berandai andai seperti apa bentuk terong belanda tersebut dan bagaimana rasanya.
Pesanan kami sudah diantar hanya dalam hitungan kurang dari lima menit. Sang pelayan mengantarkan kuah iga, bumbu kacang, serta iga yang dibakar. Kami menyantap makanan tersebut dengan menggunakan sendok, garpu dan pisau. Sementara makan, teman saya menceritakan bahwa salah sorang head chef restoran di Grand Indonesia mengatakan bahwa dia biasanya menyajikan jus terong belanda ini untuk menu kelas atas dan untuk menu kelas bisnis di kapal. Chef tersebut juga mengatakan, bahwa buah tersebut merupakan buah khas Indonesia.
Mendengar cerita dari teman saya, saya merasa bahwa saya beruntung dapat menikmati jus tersebut tanpa harus membayar lebih mahal. Jus tersebut datang, dan sayangnya itu bukan jus, namun lebih mirip dengan sirup. Untuk mengurangirasa kecewa saya, teman saya mengatakan, bahwa dia pernah membeli jus tersebut di bilangan kampus UI, Depok. Dan rasa penasaran saya terjawab ketika saya mencoba minuman terong belanda campur markisa. Warnanya seperti jus jambu merah dan rasanya antara markisa yang manis bercampur dengan hambarnya air. Memberikan kesan masam manis yang menyengat. Setelah itu, saya semakin ingin mengetahui bentuk terong belanda yang digambarkan kecil lonjong.
Irisan iga pertama sudah mampir di atas nasi. Saya menuangkan bumbu iga yang rasanya seperti bumbu sate dan memakannya dengan satu sendok kuah yang rasa dan warnanya mirip dengan kuah rawon, namun dengan tekstur yang lebih kental. Iga yang dibakar itu sangat lezat. Tekstur daging yang halus sehingga mudah diiris. Renyah serta gurih ketika terlumat di dalam mulut. Kuah yang hambar itu bercampur sempurna dengan bumbu kacang yang tercampur dengan iga tersebut. Sensasi rasa yang berbeda yang baru pertama kali saya rasakan. Menurut saya, saya belum pernah merasakan rasa seperti itu, dan itu hanya terdapat di rumah makan Daeng Tata.
Dengan merogoh kocek Rp 37.000 anda sudah bisa menikmati sepotong iga ribs ukuran besar, lengkap dengan bawang goreng dan jeruk nipis, serta kuah iga dan bumbunya yang lezat. Ditambah lagi minuman terong belanda campur markisa. Rumah makan ini juga dilengkapi dengan fasilitas wi-fi. Jadi teman-teman, selamat mencoba :)
Saya berterima kasih untuk teman dekat saya, Nugi, yang telah mengajak saya serta merekomendasikan menu tersebut. I am so happy.

Transjakarta Busway


Dear Journal,
Hari ini cuaca memang mendung. Matahari tidak bersinar, namun udara terasa lembab dan sedikit panas. Angin tidak bertiup sebagaimana sore hari pada umumnya. Saya kembali merindukan udara AC (air conditioner) yang dingin.
Setelah berkunjung ke Setia Budi menyaksikan film Little Fockers, saya memutuskan untuk pergi kembali ke Epicentrum karena Starbucks di Setia Budi terlalu penuh dan terlalu panas. Biasanya saya merasakan dingin oleh karena suhu ruangan, namun khusus hari ini merupakan pengecualian. Saya berpikir, bahwa jarak antara Setia Budi One dengan Episentrum tidak terlalu jauh, oleh karena alasan itu saya memutuskan untuk menggunakan Transjakarta Busway.
Angin bertiup dengan pelan, bahkan ketika saya berada di atas jembatan penyebrangan. Setelah saya membayar karcis, saya pun menunggu di ruang tunggu Transjakarta. Sekejap rasa panas menghampiri saya. Keringat di dahi saya sedikit mengucur, namun lama kelamaan keringat itupun membentuk bulir yang lebih besar lagi.
Bis Transjakarta tetap tidak kunjung muncul di hadapan saya dan para penumpang yang lain. Dalam hati saya mengumpat, bahwa ini terlalu panas. Setelah hampir 10 menit menunggu datanglah bis tersebut, namun untuk kedua kalinya saya tidak terangkut karena antrian penumpang yang penuh. Setelah hampir 30 menit menunggu, saya memutuskan untuk keluar dan lebih memilih menggunakan taksi saja. Panasnya temperatur di ruang terbuka itu telah menghabiskan kesabaran saya.
Saya sempat salut dengan warga Jakarta bahwa mereka harus bergelut dengan rutinitas yang sedemikian rupa. Menghadapi macet, panasnya udara serta menunggu kendaraan yang akan membawa mereka sampai ke tempat tujuan. Saya sendiri pun pernah menjadi bagian dari warga Jakarta tersebut, karena selain saya adalah warga Jakarta, saya juga dulu pengguna transportasi umum.
Apa yang saya alami ini membuat saya ingin sekali mengkritisi petugas transportasi khususnya petugas transportasi DKI Jakarta. Transjakarta Busway dibuat untuk tujuan kenyamanan. Namun hal ini juga harus didukung oleh adanya fasilitas menunggu (ruang tunggu) yang juga nyaman. Kalau memang tidak bisa menyediakan AC, setidaknya berikanlah kipas angin untuk menghembuskan angin di kala udara panas. Selain itu buatlah ruang tunggu yang lebih nyaman dengan rongga udara yang nyaman juga, sehingga tidak akan ada penumpang yang harus mengipaskan tangannya atau benda untuk membuat angin.

The Toilet


Dear Journal,
Minggu itu, aku bertemu dengan dia. Di sebuah toilet plaza di bilangan Jakarta Selatan. Dia yang berdiri di sampingku yang tanpa sengaja (atau mungkin disengaja) telah mengadakan kontak mata. Malam itu, ya malam itu, aku berjalan sendiri, memancing dia untuk mengikuti kemana kakiku melangkah. Ternyata memang dia mengikutiku.
Kudekati dia dengan hati berdegup, menunggu sinyal dari dia untuk diriku bisa lebih mendekat. Mata dia menatap mataku, dan alis sebelah kanan dia naik membentuk lengkungan dan aku menangkap itu sebagai signal untuk melangkah lebih lanjut. Dia berdiri terpaku memegang telepon genggamnya yang berwarna hitam. Di belakang dia duduk dua orang lelaki yang tanpa sengaja juga menatap mataku saat aku melihat mereka sedang berbincang.
Aku menghampiri dia namun tidak langsung mengadakan kontak mata, karena aku tidak ingin membuat kecanggungan yang aku rasakan berkembang lebih lanjut. Aku melewati dia dan menarik napas. Lalu menghampiri dia dan menyapa dia dengan sebuah ajakan resmi untuk sama-sama berjalan menuju tempat yang tidak tertuju.
Toilet. Bukan merupakan suatu tempat yang lazim untuk bertemu. Walau berkonotasi negatif, namun kami berdua memang harus berterima kasih kepada toilet itu yang telah mempertemukan kami.
Kami berdua berjalan bersama memutuskan untuk makan karena pada malam itu, aku sangat lapar sekali. Kecanggungan pertama aku rasakan saat berusaha untuk memulai pembicaraan. Ternyata dialah yang lebih dulu menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan namanya. Awalnya aku sempat beberapa detik tidak memperhatikan ajakan itu, namun dia mungkin tidak menyadarinya. Aku menjabat tangannya dan mengatakan, "Gue, Felix," setelah dia mempekenalkan namanya.
Pembicaraan mengalir di antara kami, dan malam itu aku mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan mengenai pekerjaan. Namun apa daya, dia terlanjur menanyakan dimana aku bekerja. Terus terang, aku tidak pernah ingin membicarakan pekerjaan di pertemuan pertama, karena akan sulit buatku menjelaskan bagaimana. Aku ingin mengesampingkan kesan angkuh dari apa yang aku kerjakan sekarang.
Waktu berjalan dan sangat senang sekali sebenarnya mengetahui bahwa dia juga berasal dari almamater yang sama dan aku sudah dapat merasakan hal tersebut. Dunia memang kecil aku pikir saat itu, karena ternyata dia mengenal sosok yang kebetulan sekali aku juga kenal. Dan kami berdua sama-sama pernah merasakan bekerja dengan sosok tersebut. Pembicaraan mengalir terus dan tanpa kurasa waktulah yang membatasi kami untuk berpisah.
I am hoping that we still could have more time to be spent together.

Please


Dear Journal,
Kadang gue gak bisa mengerti mengapa kebanyakan orang Jakarta lebih menye-menye dalam berpacaran. Seriously, gue bersyukur telah melalui banyak fase dalam proses ini, sehingga menjadi lebih tahan banting. Putus memang sakit, tapi ya sudahlah, life goes on kan.
Gue menyadari bahwa mungkin gue terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Keputusan yang seharusnya gue tidak ambil namun terambil karena tergesa-gesa.
Kehidupan pribadi sekarang ini menjadi harga mahal yang harus dibayar. Semakin banyak hal yang dilakukan, semakin banyak juga orang-orang baru yang ditemui. Semua tidak bisa terelakan. Apalagi Jakarta dengan era blackberry yang telah berkembang bahkan lebih pesat lagi dari waktu ke waktu. Informasi pribadi semakin terumbar ke publik dengan menyebarnya rumor di sana sini. Gue berpikir bahwa fenomena ini sudah lazim terbentuk di berbagai belahan dunia manapun dan sudah menjadi makanan sehari-hari jika kita dapat mengetahui informasi yang berkembang.
Gue juga yakin, bahwa jurnal yang gue tulis ini menjadi satu bahan untuk dimata-matai. Dan setelahnya akan dikonfirmasi melalui banyak pertanyaan. Sempat gue mebaca timeline di twitter dari sarahsechan yang menuliskan, "I can tweet whenever, however and where ever I like. If you don't like it, stop reading my tweet, my language and ...". Hal inilah yang mungkin dirasakan atas kekesalan seseorang ketika ekspresi dia dibatasi oleh banyak komentar luar yang secara langsung tidak menjadi penting untuk ditanggapi.
Contohnya, baru saja saya menuliskan jurnal mengenai toilet, saya sudah mendapatkan pertanyaan, "apakah kamu sudah bertemu dengan yang lain?". Itulah yang menjadi masalah dalam berpacaran di sini. Ketika apa yang kita tulis dijadikan suatu persepsi untuk berandai-andai dan sijadikan alat untuk menambah rasa dendam serta sakit hati yang akan menjadi obat untuk melupakan sang mantan.
Mungkin ada benarnya juga ketika salah seorang teman saya (Bimbi Nazriyanti) mengatakan, "the cure of the broken heart is another hook up!".