Friday, 7 January 2011

Transjakarta Busway


Dear Journal,
Hari ini cuaca memang mendung. Matahari tidak bersinar, namun udara terasa lembab dan sedikit panas. Angin tidak bertiup sebagaimana sore hari pada umumnya. Saya kembali merindukan udara AC (air conditioner) yang dingin.
Setelah berkunjung ke Setia Budi menyaksikan film Little Fockers, saya memutuskan untuk pergi kembali ke Epicentrum karena Starbucks di Setia Budi terlalu penuh dan terlalu panas. Biasanya saya merasakan dingin oleh karena suhu ruangan, namun khusus hari ini merupakan pengecualian. Saya berpikir, bahwa jarak antara Setia Budi One dengan Episentrum tidak terlalu jauh, oleh karena alasan itu saya memutuskan untuk menggunakan Transjakarta Busway.
Angin bertiup dengan pelan, bahkan ketika saya berada di atas jembatan penyebrangan. Setelah saya membayar karcis, saya pun menunggu di ruang tunggu Transjakarta. Sekejap rasa panas menghampiri saya. Keringat di dahi saya sedikit mengucur, namun lama kelamaan keringat itupun membentuk bulir yang lebih besar lagi.
Bis Transjakarta tetap tidak kunjung muncul di hadapan saya dan para penumpang yang lain. Dalam hati saya mengumpat, bahwa ini terlalu panas. Setelah hampir 10 menit menunggu datanglah bis tersebut, namun untuk kedua kalinya saya tidak terangkut karena antrian penumpang yang penuh. Setelah hampir 30 menit menunggu, saya memutuskan untuk keluar dan lebih memilih menggunakan taksi saja. Panasnya temperatur di ruang terbuka itu telah menghabiskan kesabaran saya.
Saya sempat salut dengan warga Jakarta bahwa mereka harus bergelut dengan rutinitas yang sedemikian rupa. Menghadapi macet, panasnya udara serta menunggu kendaraan yang akan membawa mereka sampai ke tempat tujuan. Saya sendiri pun pernah menjadi bagian dari warga Jakarta tersebut, karena selain saya adalah warga Jakarta, saya juga dulu pengguna transportasi umum.
Apa yang saya alami ini membuat saya ingin sekali mengkritisi petugas transportasi khususnya petugas transportasi DKI Jakarta. Transjakarta Busway dibuat untuk tujuan kenyamanan. Namun hal ini juga harus didukung oleh adanya fasilitas menunggu (ruang tunggu) yang juga nyaman. Kalau memang tidak bisa menyediakan AC, setidaknya berikanlah kipas angin untuk menghembuskan angin di kala udara panas. Selain itu buatlah ruang tunggu yang lebih nyaman dengan rongga udara yang nyaman juga, sehingga tidak akan ada penumpang yang harus mengipaskan tangannya atau benda untuk membuat angin.

No comments:

Post a Comment