Friday, 7 January 2011

The Toilet


Dear Journal,
Minggu itu, aku bertemu dengan dia. Di sebuah toilet plaza di bilangan Jakarta Selatan. Dia yang berdiri di sampingku yang tanpa sengaja (atau mungkin disengaja) telah mengadakan kontak mata. Malam itu, ya malam itu, aku berjalan sendiri, memancing dia untuk mengikuti kemana kakiku melangkah. Ternyata memang dia mengikutiku.
Kudekati dia dengan hati berdegup, menunggu sinyal dari dia untuk diriku bisa lebih mendekat. Mata dia menatap mataku, dan alis sebelah kanan dia naik membentuk lengkungan dan aku menangkap itu sebagai signal untuk melangkah lebih lanjut. Dia berdiri terpaku memegang telepon genggamnya yang berwarna hitam. Di belakang dia duduk dua orang lelaki yang tanpa sengaja juga menatap mataku saat aku melihat mereka sedang berbincang.
Aku menghampiri dia namun tidak langsung mengadakan kontak mata, karena aku tidak ingin membuat kecanggungan yang aku rasakan berkembang lebih lanjut. Aku melewati dia dan menarik napas. Lalu menghampiri dia dan menyapa dia dengan sebuah ajakan resmi untuk sama-sama berjalan menuju tempat yang tidak tertuju.
Toilet. Bukan merupakan suatu tempat yang lazim untuk bertemu. Walau berkonotasi negatif, namun kami berdua memang harus berterima kasih kepada toilet itu yang telah mempertemukan kami.
Kami berdua berjalan bersama memutuskan untuk makan karena pada malam itu, aku sangat lapar sekali. Kecanggungan pertama aku rasakan saat berusaha untuk memulai pembicaraan. Ternyata dialah yang lebih dulu menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan namanya. Awalnya aku sempat beberapa detik tidak memperhatikan ajakan itu, namun dia mungkin tidak menyadarinya. Aku menjabat tangannya dan mengatakan, "Gue, Felix," setelah dia mempekenalkan namanya.
Pembicaraan mengalir di antara kami, dan malam itu aku mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan mengenai pekerjaan. Namun apa daya, dia terlanjur menanyakan dimana aku bekerja. Terus terang, aku tidak pernah ingin membicarakan pekerjaan di pertemuan pertama, karena akan sulit buatku menjelaskan bagaimana. Aku ingin mengesampingkan kesan angkuh dari apa yang aku kerjakan sekarang.
Waktu berjalan dan sangat senang sekali sebenarnya mengetahui bahwa dia juga berasal dari almamater yang sama dan aku sudah dapat merasakan hal tersebut. Dunia memang kecil aku pikir saat itu, karena ternyata dia mengenal sosok yang kebetulan sekali aku juga kenal. Dan kami berdua sama-sama pernah merasakan bekerja dengan sosok tersebut. Pembicaraan mengalir terus dan tanpa kurasa waktulah yang membatasi kami untuk berpisah.
I am hoping that we still could have more time to be spent together.

No comments:

Post a Comment