Dear Journal,
Kadang gue gak bisa mengerti mengapa kebanyakan orang Jakarta lebih menye-menye dalam berpacaran. Seriously, gue bersyukur telah melalui banyak fase dalam proses ini, sehingga menjadi lebih tahan banting. Putus memang sakit, tapi ya sudahlah, life goes on kan.
Gue menyadari bahwa mungkin gue terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Keputusan yang seharusnya gue tidak ambil namun terambil karena tergesa-gesa.
Kehidupan pribadi sekarang ini menjadi harga mahal yang harus dibayar. Semakin banyak hal yang dilakukan, semakin banyak juga orang-orang baru yang ditemui. Semua tidak bisa terelakan. Apalagi Jakarta dengan era blackberry yang telah berkembang bahkan lebih pesat lagi dari waktu ke waktu. Informasi pribadi semakin terumbar ke publik dengan menyebarnya rumor di sana sini. Gue berpikir bahwa fenomena ini sudah lazim terbentuk di berbagai belahan dunia manapun dan sudah menjadi makanan sehari-hari jika kita dapat mengetahui informasi yang berkembang.
Gue juga yakin, bahwa jurnal yang gue tulis ini menjadi satu bahan untuk dimata-matai. Dan setelahnya akan dikonfirmasi melalui banyak pertanyaan. Sempat gue mebaca timeline di twitter dari sarahsechan yang menuliskan, "I can tweet whenever, however and where ever I like. If you don't like it, stop reading my tweet, my language and ...". Hal inilah yang mungkin dirasakan atas kekesalan seseorang ketika ekspresi dia dibatasi oleh banyak komentar luar yang secara langsung tidak menjadi penting untuk ditanggapi.
Contohnya, baru saja saya menuliskan jurnal mengenai toilet, saya sudah mendapatkan pertanyaan, "apakah kamu sudah bertemu dengan yang lain?". Itulah yang menjadi masalah dalam berpacaran di sini. Ketika apa yang kita tulis dijadikan suatu persepsi untuk berandai-andai dan sijadikan alat untuk menambah rasa dendam serta sakit hati yang akan menjadi obat untuk melupakan sang mantan.
Mungkin ada benarnya juga ketika salah seorang teman saya (Bimbi Nazriyanti) mengatakan, "the cure of the broken heart is another hook up!".
No comments:
Post a Comment